SAYANGILAH ORANG TUAMU,!! DO'A ORANG KEPADA ANAKNYA. DO'A YANG MUSTAJAB. BACA SELNGKABNYA....YANG SAYNG ORANG TUANYA WAJIB DI SHARE..

pelajaran yang harus di ketahui tiap-tiap orangtua. Doa mereka sungguh ajaib bila itu ditujukan pada anak-anak mereka. Bila ortu menginginkan anaknya jadi sholeh serta baik, jadi doakanlah mereka lantaran doa ortu yaitu doa yang gampang diijabahi. Tetapi ingat sesungguhnya doa yang ditujukan disini meliputi doa baik serta jelek dari orangtua pada anaknya. Bila ortu mendoakan buruk pada anaknya, jadi itu juga akan terkabulkan. Hingga ortu harus hati-hati dalam mendoakan anak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُس'تَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَع'وَةُ ال'وَالِدِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ وَدَع'وَةُ ال'مَظ'لُومِ

“Tiga doa yang mustajab yg tidak diragukan lagi yakni doa orangtua, doa orang yang melancong (safar) serta doa orang yang dizholimi. ” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَع'وَةُ ال'وَالِدِ ، وَدَع'وَةُ الصَّائِمِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ

“Tidak doa yg tidak tertolak yakni doa orangtua, doa orang yang berpuasa serta doa seseorang musafir. ” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani menyampaikan hadits ini shahih seperti dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797). Dalam dua hadits ini dijelaskan umum, berarti mencakup doa orangtua yang diisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya.

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُس'تَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَع'وَةُ ال'مَظ'لُومِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ وَدَع'وَةُ ال'وَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Tiga doa yang mustajab yg tidak diragukan lagi yakni doa orang yang dizholimi, doa orang yang melancong (safar) serta doa baik orangtua pada anaknya. ” (HR. Ibnu Majah no. 3862. Syaikh Al Albani mengatakan kalau hadits ini hasan). Kisah ini mengatakan kalau doa baik orangtua pada anaknya termasuk juga doa yang mustajab.

Muhammad bin Isma’il Al Bukhari membawakan dalam kitab Al Adabul Mufrod sebagian kisah mengenai doa orangtua. Diantara kisah tersbeut, Abu Hurairah berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُس'تَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِي'هِنَّ دَع'وَةُ ال'مَظ'لُو'مِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ وَدَع'وَةُ ال'وَالِدَي'نِ عَلىَ وَلَدِهِمَا


“Ada tiga type doa yang mustajab (terkabul), tak diragukan lagi, yakni doa orang yang dizalimi, doa orang yang melancong serta doa kejelekan ke-2 orangtua pada anaknya. ” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 32. Disebutkan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 24). Hadits ini tunjukkan bahwa doa buruk orangtua pada anaknya termasuk juga doa yang mustajab. Hal semacam itu dibuktikan dalam cerita Juraij di bawah ini. Cerita ini menunjukkan kalau doa buruk ibunya pada Juraij terkabul. Cerita ini dibawakan juga oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod.

Abu Hurairah berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَكَلَّمَ مَو'لُو'دٌ مِنَ النَّاسِ فِي مَه'دٍ إِلاَّ عِي'سَى ب'نُ مَر'يَمَ صَلَّى اللهُ عَلَي'هِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبُ جُرِي'جٍ” قِي'لَ : يَا نَبِيَّ اللهِ! وَمَا صَاحِبُ جُرَي'جٍ؟ قَالَ : “فَإِنَّ جُرَي'جًا كَانَ رَجُلاً رَاهِباً فِي صَو'مَعَةٍ لَهُ، وَكَانَ رَاعِيُ بَقَرٍ يَأ'وِي إِلَى أَس'فَلِ صَو'مَعَتِهِ، وَكَانَت' اِم'رَأَةٌ مِن' أَه'لِ ال'قَر'يَةِ تَخ'تَلِفُ إِلَى الرَّاعِي، فَأَتَت' أُمُّهُ يَو'مًٍا فَقَالَت' : يَا جُرَي'جُ! وَهُوَ يُصّلِّى، فَقَالَ فِي نَف'سِهِ – وَهُوَ يُصَلِّي – أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَن' يُؤ'ثِرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَت' بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي نَف'سِهِ : أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَن' يُؤ'ثِرَ صَلاَتَهُ. ثُمَّ صَرَخَت' بِهِ الثَالِثَةَ فَقَالَ : أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَن' يُؤ'ثِرَ صَلاَتَهُ. فَلَمَّا لَم' يُجِب'هَا قَالَت' : لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَي'جُ! حَتىَّ تَن'ظُرَ فِي وَج'هِ المُو'مِسَاتِ. ثُمَّ ان'صَرَفَت' فَأُتِيَ ال'مَلِكُ بِتِل'كَ ال'مَر'أَةِ وَلَدَت'. فَقَالَ : مِمَّن'؟ قَالَت' : مِن' جُرَي'جٍ. قَالَ : أَصَاحِبُ الصَّو'مَعَةِ؟ قَالَت' : نَعَم'. قَالَ : اِه'دَمُوا صَو
200%;">'مَعَتَهُ وَأ'تُو'نِي بِهِ، فَضَرَبُو'ا صَو'مَعَتَهُ بِال'فُئُو'سِ، حَتىَّ وَقَعَت'. فَجَعَلُو'ا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ بِحَب'لٍ؛ ثُمَّ ان'طَلَقَ بِهِ، فَمَرَّ بِهِ عَلَى ال'مُو'مِسَاتِ، فَرَآهُنَّ فَتَبَسَّمَ، وَهُنَّ يَن'ظُر'نَ إِلَي'هِ فِي النَّاسِ. فَقَالَ ال'مَلِكُ : مَا تَز'عُمُ هَذِهِ؟ قَالَ : مَا تَز'عُمُ؟ قَالَ : تَز'عُمُ أَنَّ وَلَدَهَا مِن'كَ. قَالَ : أَن'تِ تَز'عَمِي'نَ؟ قَالَت' : نَعَم'. قَالَ : أَي'نَ هَذَا الصَّغِي'رُ؟ قَالُو'ا : هَذَا فِي حُج'رِهَا، فَأَق'بَلَ عَلَي'هِ. فَقَالَ : مَن' أَبُو'كَ؟ قَالَ : رَاعِي ال'بَقَرِ. قَالَ ال'مَلِكُ : أَنَج'عَلُ صَو'مَعَتَكَ مِن' ذَهَبٍ؟ قَالَ : لاَ. قَالَ : مِن' فِضَّةٍ؟ قَالَ : لاَ. قَالَ : فَمَا نَج'عَلُهَا؟ قَالَ : رَدُّو'هَا كَمَا كَانَت'. قَالَ : فَمَا الَّذِي تَبَسَّم'تَ؟ قَالَ : أَم'راً عَرَف'تُهُ، أَد'رَكَت'نِى دَع'وَةُ أُمِّي، ثُمَّ أَخ'بَرَهُم'

“Tidak ada bayi yang bisa bicara dalam buaian terkecuali Isa bin Maryam serta Juraij” Lantas ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah siapakah Juraij? ”. Beliau lantas bersabda, ”Juraij yaitu seseorang rahibyang berdiam diri pada tempat tinggal peribadatannya (yang terdapat di dataran tinggi/gunung). Ada seseorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya serta seorang wanita dari satu desa menjumpai penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).

(Satu saat) datanglah ibu Juraij serta memanggilnya saat ia tengah melakukan shalat, ”Wahai Juraij. ” Juraij lantas ajukan pertanyaan dalam hatinya, ”Apakah saya mesti penuhi panggilan ibuku atau melanjutkan shalatku? ” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lantas memanggil untuk yang ke-2 kalinya. Juraij kembali ajukan pertanyaan didalam hati, ”Ibuku atau shalatku? ” Rupanya dia memprioritaskan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij ajukan pertanyaan lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku? ” Rupanya dia tetaplah memprioritaskan shalatnya. Saat telah tak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tak mewafatkanmu, wahai Juraij hingga wajahmu dipertontonkan di depan beberapa pelacur? ” Lantas ibunya juga pergi meninggalkannya.

Wanita yang menjumpai penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam kondisi sudah melahirkan seseorang anak. Raja itu ajukan pertanyaan pada wanita itu, ”Hasil dari (jalinan dengan) siapa (anak ini)? ” “Dari Juraij? ”, jawab wanita itu. Raja lantas ajukan pertanyaan lagi, “Apakah dia yang tinggal ditempat peribadatan itu? ” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan tempat tinggal peribadatannya serta bawa dia kemari. ” Orang-orang lantas menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak hingga rata serta mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lantas membawanya menghadap raja. Di dalam perjalanan Juraij ditinggalkan dihadapan beberapa pelacur. Saat memandangnya Juraij tersenyum serta beberapa pelacur itu lihat Juraij yang ada diantara manusia.

Raja lantas ajukan pertanyaan kepadanya, “Siapa ini menurutmu? ”. Juraij balik ajukan pertanyaan, “Siapa yang engkau maksud? ” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata kalau anaknya yaitu hasil jalinan denganmu. ” Juraij ajukan pertanyaan, “Apakah engkau sudah berkata demikian? ” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lantas ajukan pertanyaan, ”Di mana bayi itu? ” Orang-orang lantas menjawab, “ (Itu) di pangkuan (ibu) nya. ” Juraij lantas menemuinya serta ajukan pertanyaan pada bayi itu, ”Siapa ayahmu? ” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi. ”

Kontan sang raja berkata, “Apakah butuh kami bangun kembali tempat tinggal ibadahmu dengan bahan dari emas. ” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak? ” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami bakal bangun tempat tinggal ibadahmu? ”, bertanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti awal mulanya. ” Raja lantas ajukan pertanyaan, “Mengapa engkau tersenyum? ” Juraij menjawab, “ (Saya tertawa) lantaran satu perkara yang sudah saya kenali, yakni terkabulnya do’a ibuku pada diriku. ” Lalu Juraij juga menginformasikan hal semacam itu pada mereka. ” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 33. Disebutkan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 25). Saksikan Bukhari : 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim : 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8

Jadi sungguh sangat bahaya bila keluar dari lisan orangtua doa buruk pada anaknya sendiri karena doa seperti itu dapat terkabul seperti bisa kita saksikan dalam cerita Juraij diatas. Yang paling baik, sebaiknya orangtua mendoakan anaknya dalam kebaikan serta moga anaknya jadi sholeh dan ada di jalan yang lurus. Saat geram lantaran kenakalan anaknya, sebaiknya amarah itu ditahan. Ingatlah sekali lagi kalau di waktu geram lantas keluar doa buruk dari lisan ortu, jadi mungkin saja doa buruk itu terwujud.

Sebaiknya orangtua mencontoh para nabi serta orang sholeh yang senantiasa mendoakan kebaikan pada anak keturunannya. Lihatlah contoh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam dimana beliau berdoa,

رَبِّ اج'عَل'نِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّل' دُعَاء

“Ya Tuhanku, jadikanlah saya serta anak cucuku beberapa orang yang tetaplah membangun shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. ” (QS. Ibrahim : 40)

رَبِّ اج'عَل' هَذَا ال'بَلَدَ آمِنًا وَاج'نُب'نِي وَبَنِيَّ أَن نَّع'بُدَ الأَص'نَامَ


“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, serta jauhkanlah saya beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala. ” (QS. Ibrahim : 35)

Lihatlah karakter ‘ibadurrahman (hamba Allah) yang berdoa,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَب' لَنَا مِن' أَز'وَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَع'يُنٍ وَاج'عَل'نَا لِل'مُتَّقِينَ إِمَامًا


“Dan beberapa orang yang berkata : “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah pada kami, isteri-isteri kami serta keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), serta jadikanlah kami imam untuk orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqan : 74)

Moga Allah memperkenankan doa kita sebagai orangtua yang diisi kebaikan pada anak-anak kita. Moga anak-anak kita ada dalam kebaikan serta selalu ada dalam tuntunan Allah di jalan yang lurus. Bila kita sebagai anak, jangan sampai hingga durhaka pada orangtua. Banyak-banyaklah berbuat baik pada mereka, hingga kita juga bakal didoakan oleh ayah serta ibu kita.

Mudah-mudahan sajian singkat pada malam ini berguna untuk pembaca setia rumaysho. com sekalian.